Ayok Jemput Petunjuk

img_60401.jpg

Bulan suci ramadhan, jika saya tulis sesuai suara pembacaannya menjadi “romadlon”.
Sudah istimewa, spesial, khusus dan selalu banyak kaum manusia yang menghitung, saya yakin di bulan ini banyak orang yang menjadi serba perhitungan, baik perhitungan dengan belanjaan maupun perhitungan dengan pahala target hariannya, sungguh manusia sekali.

Begitu banyak ayat-ayat yang didistribusikan oleh Sri Baginda tentang bulan ramadhan. Dari begitu banyaknya kewajiban puasa hanya menghasilka (output) beberapa golongan saja.
Antara lain yang tertulis adalah la’allakum tattaqun, la’allakum tasykurun dan la’allahum yarsyuduun

1.     la’allakum tattaquun
Kita pasti sudah tahu yang ini karena apa kan ? Ya, kita harus benar-benar takwa dan percaya. Dan sudah banyak yang mengartikan jika puasa itu benar-benar ibadah yang radikal dan revolusioner
Betapa tidak, saat puasa kita dihadapkan dengan dunia nyata dan kita dalam kondisi sadar, tidak sedang khusyu’ sebagaimana ibadah sholat yang notabene fokus memelengoskan pandangan dari dunia.

2.    la’allakum tasykurun
Kurang bersyukur apalagi kita, sudah diberi hal istimewa saat buka, merasakan menjadi orang tidak mampu (tidak makan), memaksa makan padahal belum lapar saar sahur dan terpaksa bangun padahal masih ngantuk dan yang pasti kepuasaan hakiki dari setiap jiwa, apa itu ? bersedakah, jika kita tidak merasa lega saat sedekah, berarti jika saya tidak salah tulis ya memang tulisan saya yang kurang tepat. hehe

3.    la’allahum yarsyuduun
Betapa bahagianya kita menjadi orang yang mendapat petunjuk. Petunjuk yang baik dan hakiki, manusiawi dan bersifat asli murni sorgawi. Tapi dari keberdaan petunjuk ini harus ada medianya

Baiklah, saya akan sebutkan beberapa media yang memberikan petunjuk kepada manusia berdasarkan levelnya.
a.    Insting
Bukan “in – stink” atau “in – sting”, tapi naluri manusia kita, hak otomatis tubuh adalah pemberi clue paling dasar jika kita membutuhkan sesuatu. Yap, hal ini ada pada hewan dan bayi, umumnya ada pada
manusia dewasa yang sedang menjalankan aktiftas sehari-hari dengan dilalui tanpa sadar, yakni “alam bawah sadar” karena kebiasaan.

b.     Panca Indera
Kita naik lebih mulia sedikit, kita selalu menggunakan insting kita dengan media juga. Indera inilah pemberi respon ke otak sehingga menjadikan petunjuk atau informasi sementara

c.    Akal
Untuk saat ini akal menempati tempat paling mulia, dia di atas angin karena dengan akal manusia tidak mengembik ketika melihat rumput. Tetapi dari hanya keberadaan akal inilah sesuatu yang
disebut “rasional” bertahta. Rasionalitas tidak memandang benar dan salah, baik dan buruk. Sample dari rasionalitas adalah keberadaan HAM (Hak Asasi Manusia). HAM hanya mengatur keselamatan dan
ketertiban dunia, tapi tidak mengatur kebaikan dan hasil dari takdir. Mbulet ? Ruwet ? Ini saya beri contoh :
Ada sepasang anak SMA sedang pacaran, dengan sengaja mereka melakukan hal yang tidak diharapkan yakni suap-suapan. Sedangkan sekolah punya undang-undang untuk tidak boleh suap menyuap. Tapi dengan HAM anak-anak ini akan aman karena mereka saling setuju dan mau sama mau, tidak ada yang salah. Sedangkan dari sekolahan sendiri mereka akan dapat hukuman (sayang sekali padahal hanya makan suap-suapan). Otomatis kedua anak ini akan mencari perlindungan dari pembela HAM, entah siapa.

Yang terakhir ini adalah benar-benar petunjuk untuk mendapat kehakikian Tuhan, esensi kealaman semesta
d.    Agama
Dengan agama semua ini jelas, perempuan dibuat untuk laki-laki, kawin hanya boleh dilalui dengan menikah, menumpas jomblo dengan cara kenalan lalu lamar (tapi tidak semudah itu sih).
Dari semua petunjuk itu, poin a, b dan c adalah pemberian gratis dari Tuhan sang Maha Pemberi Bonus, tapi tidak dengan agama. Agama harus kita tebus dengan ketekunan kita beramal, semakin tekun
hidayah / petunjuk semakin jelas, semakin melempem yang dapet sih tapi yang sentuhan kasih sayang Tuhan tak sehangat yang sungguh-sungguh. Dan itu semua berlaku bagi semua agama.

Mari kita cari petunjuk itu di masa-masa yang penuh berkah ini, semoga apa dalam hangatnya ramadhan ini kita mendapat makna manusia seutuhnya dan sentuhan rahmat Illahi yang kimocii.

Terima kasih atas kesediannya belajar bersama sampai jumpa di lapak cerita yang lain-lainnya.

wallohu a’lamu bisshowaab

Tabik,
Moch. Bahruddin

Iklan