Drama

“Semua perjalanan hidup adalah sinema, bahkan lebih mengerikan. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada pemeran pengganti yang akan menanggung sakitmu – mbak Dee”

IMG_1599Di atas merupakan cuplikan pembukaan kali ini, milik mbak Dewi Lestari yang hanya saya kagumi kata-katanya, kalo orangnya jujur saya lebih kagum sama adiknya, mbak Ephipania.

Drama mungkin dalam penglihatan kita akan dekat dengan tulisan Darma / Dharma, yang kurang lebih menurut keyakinan Hindu adalah prinsip dari tatanan semua alam semesta ini (kosmik). Jadi, apakah kita setiap hari berdrama dalam dharma ? benar sekali, benar-benar drama sebagaimana yang dipaparkan mba Dewi Lestari di atas.

Tetapi sebagai manusia, tidak sepatutnya kita terlalu berlebihan dan kekurangan dalam menjalani akting yang hakiki ini, agar apa yang kita tunjukkan pada orang lain dapat diterima dengan parameter mereka sebagai penikmat gerak hidup kita.

Dengan ini pula saya mengingat jauh saat menjelang memasuki bangku perkuliahan. Dari sebuah lembaga keagamaan saya mendapat pesan dari Abah, untuk tidak mudah nggumunan (takjub) dan tidak boleh gaya (pamer atau menunjukkan sesuatu agar diperhatikan orang lain, baik sesuatu yang menarik atau butuh harapan).

Seumpamanya kita menjadi imam sholat, di awal-awal sholat terlihat khusyu’ dan panjang dan pada akhirnya menjadi cepat dan lebih cepat daripada bayangan saya. Apakah kita meminta makmum menilai sholat kita ? tidak, sholat kita hanya dinilai oleh malaikat yang mencatatnya baru dilaporkan kepada Tuhan Maha Pengawas.

Tetapi, sesampainya saya di Jakarta ini saya dapat melihat begitu banyak orang yang selalu memaksakan perannya, peran dalam drama kehidupannya, bahkan kadang saya ikut terpengaruh juga dengan gemulainya sorban dan jubah itu. Pada dasarnya sangat suka dan mungkin menarik untuk diidolakan, tetapi lambat laun satu persatu mereka ada yang mungkin merasa lelah dalam perjuangannya menjadikan kedok asli mereka seperti apa, jujur setelah itu saya mencoba untuk mengikuti filosofi lengsernya Gus (Abah) Dur, yakni memandang sesuatu harus pada substansi itu sendiri. Tapi dari sini saya menjadi mudah untuk curiga terlebih dahulu bukannya yakin.

 

IMG_1970.JPG

 

Sesungguhnya ada banyak contoh di sekitar kita, tapi dengan ini merasa sulit untuk mengutarakannya. Bukan lain karena saya kurang berani untuk membuka yang saya nilai keburukan, padahal seharusnya dibuka untuk disadari dan diperbaiki.

Baiklah, alangkah baiknya kita berdo’a untuk kebaikan kita bersama. Untuk kebenaran yang hakiki dari diri kita dan anak turun seterusnya.

Wallohu a’lam

Tabik
Moch. Bahruddin

Greatest Cure

Bermilyar kekurangan sebagai cobaan (salah satunya adalah sakit) dari jaman dulu hingga kini kita temui. Layaknya hewan, ada yang menjadi buas atau mematikan hingga masih sebagai misteri bahkan ada yang menjadi peliharaan yakni lapar dan haus.

Selama ini saya mencoba melakukan observasi yang aneh dan sangat tidak ada guna sama sekali, jadi saya rekomendasikan anda jangan membaca tulisan ini jika anda tidak ingin sadar akan kemampuan diri sendiri dalam proses penyembuhan, yeah “The cure is worse than the disease”.

Obat kita bagi menjadi 3 bagian, yakni :
1. Bathin
2. Dhohir
3. Bainahuma (antara keduanya)

Adapun tiap bagian mempunyai jenis lagi, mari kita mulai dari no. 2 (hak prerogatif saya sebagai penulisnya).

Penyembuhan Dhohir secara tidak langsung sering kita cari, gunakan dan konsumsi. Jenis inipun mempunyai dua tipe (untuk saat ini)

a. Kimia,

Sudah banyak di mana-mana, bungkusnya saja ada di rumah sakit, apotek, rumah, kamar mandi, dapur, kotak obat bahkan tempat sampah
contoh : pil, kapsul, sirup dan yang bermerk lain-lainnya.
b. Natural,

Mungkin tipe ini sekarang jarang kita gunakan karena lebih ribet dan jarang ditemukan di perkotaan manusia, padahal dulu disukai kompeni dan rebutan dunia.
contoh : kunyit, kencur, jahe, jeruk nipis, madu, bawang putih dan masih berjuta-juta lagi di bumi pertiwi ini.

“wahai pria, sungguh mulianya jika calon istri anda tahu perbumbuan dapur juga rempah-rempah penyembuh lelah kerja kerasmu sebagai tulang punggung – aku”

Kita lanjutkan ke bagian pertama, yakni penyembuhan Bathin. Bagian ini selalu kita gunakan tetapi sesadar saya menyadari penggunaannya saya jarang “ngeh” atau sadar jika hal ini adalah obat yang lebih berkhasiat dari pada model “Dhohir. Jenis ini juga dibagi menjadi dua, antara lain

a. Do’a dari diri sendiri, hal ini adalah aktivitas paling mujarab jika kita benar-benar yakini dan bersugesti “berhasil”, bahkan lebih mujarab dibanding pesan dokter yang ia tulis dalam secarik kertas resep menurut diagnosa ilmuan
contoh : do’a duduk di antara dua sujud saat sholat

“رب اغفر لي وارحمني واجبرني وارفعني وارزقني واهدني وعافني واعف عني”,  Tuhan, ampunilah dosaku, siramilah kasih sayang padaku, cukupilah kekuranganku, junjunglah derajatku, bukakan petunjuk untukku, berilah KESEHATAN padaku dan juga selalu maafkan kesalahanku

b. Do’a dari orang lain, mungkin ini akan sangat mustajab orang yang mendo’akan adalah orang yang lebih dekat dengan Allah (dalam ibadahnya), atau setidaknya orang tua kita, sekurang-kurangnya adalah kekasih anda yang dengan ikhlasnya mendo’akan anda demi masa depan bersama. Harapan ini merupakan curhatan pada Tuhan dalam munajat-munajat cinta mereka di siang dan malam hari
contoh : do’a setelah sholat lima waktu, saat ke masjid atau tempat-tempat ibadah lainnya.

Dan yang terakhir tidak akan kami bagi lagi. Menurut observasi saya hanya satu cara untuk model ini, model yang berbentuk dhohir dan juga dengan bantuan bathin.
Salah satu cara atau aktivitasnya adalah pijitan dengan tangan tulus ibu atau nenek kita di saat kita benar-benar lelah atau sakit. Saya berani jamin tukang pijit manapun tidak sanggup menandingi beliau-beliau ini. Meskipun bertangan lembut, tangan ibu mempunyai daya sihir semacam “the real magic touch” pada raga kokoh kita. Dhohirnya dapat kita lihat dengan usaha beliau menyentuh dan memijat tubuh kita sedangkan Bathinnya ada dirasa kasih sayang yang beliau salurkan melalui “hand of magic” itu. Ada contoh lain lagi tapi ini kurang bernilai bagi orang yang tidak kasmaran, yakni jalan-jalan atau belanja dengan orang terkasih, jujur saya melihatpun dapat sedikit merasakannya meskipun belum pernah.

Sekian rangkuman obat-obatan menurut observasi saya, mohon maaf jika salah atau kuran dan terima kasih sudah berani membaca tulisan tidak berguna ini.

Wallohu a’lam bisshowab
Tabik,
Moch. Bahruddin